Selasa, 03 November 2009

Kali Ini Giliran Subak yang Direbut Malaysia

VIVAnews - Sebuah email datang di inbox kemarin sore. Pengirimnya Sugi Lanus, teman yang lebih banyak berdiskusi di dunia maya ketimbang bertemu muka. Isi emailnya: Subak sudah pindah ke Malaysia.

Sugi memberikan tautan ke website Restoran Subak di Malaysia. Alamat situs restoran itu pakai identitas Malaysia di belakangnya (com.my). Aku cek alamat tersebut. Walah, ternyata benar. Nama subak yang digunakan restoran tersebut memang mentah-mentah diambil dari Bali.

Baiklah. Ini yang ditulis restoran tersebut di situsnya.

“Blessed with naturally fertile land and copious rainfall, rice was cultivated in Bali’s highlands via numerous spring-fed streams that resulted in the development of the highly intricate and ritualised Subak water irrigation system. subak was born out of this inspirational tradition of sharing life-giving water to sustain rice terraces in Bali.

Built on the fringes of the natural virgin jungles of Bukit Lanjan, subak is a sanctuary that promises diners a culinary journey of fine food and personalised service. In keeping with the dynamic Balinese culture that is constantly fusing the old and traditional, with the new and innovative; subak aims to emulate this concept by blending its rustic decor with functional yet unique furniture and fittings.”

Penggunaan nama subak oleh restoran Malaysia ini langsung mengingatkan saya pada beberapa polemik sebelumnya seperti reog ponorogo dan tari pendet. Pada dua polemik itu negara jiran tersebut menggunakan dua kesenian khas Indonesia itu untuk iklan pariwisatanya.

Lalu orang-orang Indonesia pun pada ribut bukan main. Ada yang meras kecolongan. Ada yang menuduh Malaysia hanya pencuri. Tapi tak sedikit pula yang bereaksi biasa saja. Budaya toh bisa digunakan oleh siapa saja.

Jadi mari menunggu bagaimana reaksi orang Indonesia untuk kasus penggunaan nama Subak oleh restoran Malaysia ini.

Kalau saya sendiri sih malah senang. Penggunaan nama Subak untuk restoran di Malaysia kan juga menunjukkan bahwa Malaysia memang benar-benar iri sama kayanya budaya Indonesia.

0 komentar: